Bayangin ada satu sosok anak muda di Mekkah dulu, namanya
Mush’ab bin Umair. Kalau istilah kita sekarang, dia tuh anak sultan: tampan,
keren, fashionable, wangi, hits followersnya aja sampai 5jt di IG (hehehe bercanda), dan
literally selalu jadi pusat perhatian. Pokoknya kalau ada red carpet di Mekkah,
Mush’ab pasti dapet spotlight.
Tapi ternyata, Allah kasih dia jalan hidup yang nggak biasa.
Suatu hari dia ketemu dengan Nabi Muhammad ﷺ yang waktu itu lagi dakwah
diam-diam. Mush’ab penasaran, terus dengerin Al-Qur’an. Hatinya langsung bergetar,
kayak nemu kebenaran yang selama ini dia cari. Dia masuk Islam, tapi diem-diem,
karena tahu orang tuanya pasti marah besar.
Dan benar, waktu keluarganya tahu, dunia Mush’ab jungkir
balik. Semua privilege dicabut. Dari hidup nyaman jadi hidup sederhana. Dari
anak orang kaya raya jadi anak yang dikejar-kejar keluarganya sendiri. Tapi
hebatnya, Mush’ab tetap tegar. Dia ngerasain sendiri, iman itu lebih mahal dari
harta dan status sosial.
Nah, puncaknya, Rasulullah ﷺ nunjuk Mush’ab buat jadi “duta
pertama Islam” ke Madinah (waktu itu masih Yatsrib). Coba bayangin deh, Mushab bin Umair yang waktu itu masih muda, udah dipercaya bawa misi penting: ngajarin orang tentang Islam,
bikin suasana jadi kondusif, dan nyiapin Madinah biar nanti bisa jadi pusat
peradaban Islam. Dan Mush’ab berhasil. Banyak orang Madinah masuk Islam lewat
dakwah santun dan cerdasnya. Bahkan keluarga-keluarga besar Madinah akhirnya
ikut karena dia.
Sayangnya, hidup Mush’ab nggak berakhir dengan gemerlap. Di Perang Uhud, Mush’ab syahid. Dan waktu itu, kain kafannya nggak cukup untuk nutupin seluruh tubuhnya.
Dari anak muda yang dulunya hidup super glamor, wafat dengan begitu sederhana. Tapi dari kesederhanaan itulah, namanya harum sampai sekarang.
~~~~~~~~~~~~~~~~
Kadang hidup bikin kita ngerasa underrated, seolah-olah value diri ditentukan dari berapa banyak yang kita punya, bukan dari siapa kita sebenarnya. Padahal, Mush’ab ngajarin hal yang paling “ultimate”: keren itu bukan soal apa yang nempel di badan, tapi apa yang nempel di hati.
Dia itu kehilangan semua hal yang bikin hidupnya nyaman, outfit mahal, status, fasilitas, reputasi keluarga. Tapi justru saat semua itu dicabut, yang tersisa adalah dirinya yang paling murni. Dan dari versi paling sederhana itulah, Allah angkat dia jadi simbol keberanian.
- Yang bikin kita besar itu bukan fasilitas, tapi prinsip.
- Yang bikin kita maju itu bukan privilege, tapi keberanian.
- Yang bikin kita bertahan itu bukan pujian, tapi keteguhan.
Jadi kalau hari ini hidup berasa berat, goals belum kepegang, atau keadaan lagi nggak ngedukung, jangan buru-buru minder. Bisa jadi Allah lagi nyiapin kita buat jadi “versi Mush’ab” di lingkungan kita: seseorang yang hadirnya bawa arah, bawa nilai, dan bawa perubahan.
Komentar
Posting Komentar