Langsung ke konten utama

"Kok aku gak maju-maju ya?"

 Guys...

Pernah nggak ngerasa kayak lagi di titik “kok aku nggak maju-maju ya”?

Tenang, kamu nggak sendirian. Saya baru check data dari BPS 2024 yang bikin saya mikir: 22,25% anak muda Indonesia, sekitar 9,9 juta orang, lagi ada di kategori NEET (𝘕𝘰𝘵 𝘪𝘯 𝘌𝘥𝘶𝘤𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯, 𝘌𝘮𝘱𝘭𝘰𝘺𝘮𝘦𝘯𝘵, 𝘰𝘳 𝘛𝘳𝘢𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨).

So, 1 dari 4 Gen Z di Indonesia saat ini nggak sekolah, nggak kerja, dan nggak ikut pelatihan apa-apa.

𝘾𝙤𝙗𝙖 𝙗𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣...

Dari 4 orang yang kita kenal, bisa jadi 1 di antaranya lagi stuck banget, bukan karena nggak mau maju, tapi karena emang jalannya susah banget.

1. Lowongan kerja semakin competitive,

2. Skill yang dipelajari di sekolah sering nggak sesuai dengan demand di dunia kerja,

3. Modal usaha susah didapat,

4. Kursus atau pelatihan yang bagus harganya bisa bikin wallet drain. Dsb.....

Bahkan, kadang self-improvement yang kita lakukan pun nggak langsung ngasih impact. Yang makin sedih, ternyata:

- Papua Tengah jadi provinsi dengan angka NEET tertinggi (31,2%)

- Bali justru yang paling rendah (7,26%)

Jelas banget kalau akses dan opportunities nggak merata. Di kota besar, akses ke pendidikan, pekerjaan, dan pengembangan diri masih oke.

Tapi, buat mereka yang di daerah yang lebih terbatas, opportunities itu jadi semakin susah diraih. Masih banyak yang terhambat karena lack of resources.

𝙏𝙚𝙧𝙪𝙨, 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙤𝙣𝙜?

Saya nggak akan bilang “harus lebih rajin, ya” atau “cari kerja lebih banyak, ya” karena itu bukan cuma soal usaha pribadi doang.

Ini masalah yang lebih besar. Tapi, bagaimana kalau kita mulai dari hal kecil dulu? Mungkin, small steps yang kita ambil bisa bikin perbedaan besar.

Beberapa hal yang bisa kita coba bareng:

1. Share informasi tentang peluang kerja, beasiswa, atau pelatihan gratis ke teman-teman yang membutuhkan.

2. Upgrade skill yang relevant dengan dunia kerja. Jangan cuma teori, tapi yang bisa langsung apply dan bikin kita siap terjun ke dunia profesional.

3  Dukung lebih banyak program magang atau training programs dari pemerintah dan perusahaan supaya anak muda bisa punya hands-on experience yang valuable.

4. Mulai dari yang kecil, join komunitas, cari mentor yang bisa memberikan insight atau bahkan coba ikutan event-event yang bisa expand your network dan nambah wawasan.

Banyak peluang yang sebenarnya ada, tinggal bagaimana kita mencari dan memanfaatkan itu.

Jadi, kalau kamu baca ini sambil mikir, “Aku juga termasuk nih,” atau “Ada teman aku yang kayak gini…”

Let’s talk! Karena change doesn’t happen by waiting, kita nggak akan melihat perubahan kalau kita nggak mulai bergerak. It’s time to take action, yuk mulai sekarang, together!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Peran Wanita

  Membaca Ulang Kontribusi Perempuan dalam Arus Perubahan Perdebatan tentang peran dan kontribusi perempuan dalam Islam kerap terjebak pada satu kesalahan mendasar: kegagalan membedakan antara ketetapan Ilahi dan konteks historis manusia . Akibatnya, batas yang seharusnya fleksibel menjadi kaku, dan prinsip yang seharusnya menjadi kompas justru berubah menjadi tembok pembatas. Dalam ruang inilah, kontribusi perempuan sering kali direduksi bukan oleh teks suci, melainkan oleh cara membacanya. Islam hadir bukan di ruang hampa. Al-Qur’an turun dalam realitas sosial tertentu dengan struktur patriarkal yang kuat. Namun penting dicatat, wahyu tidak datang untuk mengabadikan struktur tersebut, melainkan untuk mengintervensinya secara bertahap . Ketika konteks sosial itu kemudian diperlakukan sebagai ketetapan final, maka yang terjadi adalah pembekuan pesan moral Islam ke dalam bentuk-bentuk sosial yang sesungguhnya bersifat sementara. Di sinilah letak persoalan epistemologisnya. Banya...

Rumus Relativitas & Ashabul Kahfi

  Pertanyaan ini menghubungkan dua dunia yang tampak terpisah: fisika modern dan cerita teologis. Namun, dalam pandangan yang lebih holistik, E=MC² dan kisah Ashabul Kahfi dapat dipahami sebagai pintu masuk ke pemaknaan mendalam tentang waktu, energi, dan keberadaan. Teori relativitas Einstein menyatakan bahwa waktu tidak absolut; ia relatif terhadap kecepatan dan gravitasi. Dalam kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda tidur selama 309 tahun, tetapi mereka merasa hanya tertidur sesaat. Fenomena ini, meskipun diceritakan dalam konteks religius, tampak sejalan dengan gagasan relativitas waktu: waktu dapat berjalan lebih lambat atau lebih cepat tergantung pada kerangka referensi. Jika dikaitkan dengan E=MC², di mana energi (E) setara dengan massa (M) dikalikan kuadrat kecepatan cahaya (C²), ini menunjukkan bahwa massa dan energi adalah dua manifestasi yang saling dapat dipertukarkan. Dalam narasi teologis, mungkin ini bisa dilihat sebagai analogi metafisik: bahwa segala sesuatu, ter...
  Kenapa Pemuda Itu Penting Buat Peradaban? Coba kita tarik napas dulu, terus tanya ke diri sendiri: "Gue hidup buat apa, sih?" Pertanyaan ini mungkin keliatannya klise, tapi justru itu inti dari semua gerakan besar dalam sejarah. Orang-orang yang bikin perubahan besar di dunia... biasanya mulainya dari satu titik: kesadaran akan peran diri. Nah, dari kacamata psikologi, usia pemuda itu masuk fase yang disebut identity vs role confusion , fase ketika seseorang lagi nyari siapa dirinya, apa nilai hidupnya, dan apa peran dia di tengah masyarakat. Kalau fase ini berhasil dilewati dengan sehat, lahirlah generasi yang kuat secara mental, jelas tujuan, dan tahu arah. Erikson, E. H. (1950). Childhood and Society . New York: W. W. Norton & Company. Buku ini memperkenalkan 8 tahap perkembangan psikososial, termasuk tahap "Identity vs Role Confusion". Jadi pemuda itu bukan cuma soal umur. Tapi soal mental, semangat eksplorasi, dan keberanian buat bilang: “Gue...